“
Huft…”
Greys
mendengus kesal saat dilihatnya seikat mawar merah dan sebatang cokelat di laci
meja kelasnya.
“
Lagi-lagi, Ahsan.” Katanya kesal.
“
Kenapa, Gel?? Pagi-pagi udah ngomel-ngomel.” Kata Pia, teman sebangkunya.
“
Ini nih, si Ahsan, lagi-lagi dia ngirimin coklat sama mawar. Kan lo tau sendiri
gue risih banget diginiin.”
“
Hahaha…lo itu aneh, dikasih perhatian malah marah-marah. Ahsan itu bener-bener
suka sama lo. Lagian apa sih kurangnya dia?? Cakep iya, pinter iya, baik banget
juga.”
“
Kalau dipikir-pikir sih dia emang almost
perfect. Cuma gue ga suka aja dia ngasih perhatian yang berlebihan sama gue
kayak begini.”
“
Ya mungkin aja dia takut ngomong langsung sama lo, dia takut ditolak mungkin.”
“
Tau deh… bodo amat lah.”
“
Ckckck…. Greys..Greys..”
*
* *
Ini
sudah kali keenam Ahsan mengirimkan mawar merah kepada Greys. Tapi anehnya saat
bertemu dengan Greys, Ahsan hanya diam saja. Seolah tak terjadi apa-apa antara
dia dengan Greys. Padahal sejujurnya, walaupun Greys risih dengan perlakuan Ahsan
padanya, ia tak bisa memungkiri bahwa perasaannya mulai berubah kepada Ahsan.
