Sunday, May 22, 2011

Last Chance #FF Bultang HenLy Edition


“ Lily…please maafin aku…” kata Hendra memelas. Tangannya masih erat menggenggam tangan Lily.
            “ Sorry, I can’t. kamu tau kan aku paling ga suka dibohongin, apalagi diselingkuhin. Jadi kali ini aku ga bisa maafin kamu.” Lily berkata dengan nada tinggi, ia pun berusaha untuk melepaskan genggaman Hendra.
            “ Lily..aku mohon kali ini aja, kasih aku kesempatan kedua, give me second chance. Kuakui aku salah dan aku menyesal, Lily. Aku masih sayang sama kamu. Aku pengen kita kaya dulu lagi.”
            “ Bullshit !! Yang namanya cowok kalau udah pernah selingkuh pasti susah buat berubah.”
“ Aku janji aku akan berusaha buat berubah, asal kamu mau kasih aku kesempatan.” Hendra menatap Lily lembut. Lily terdiam sejenak.
Okay, I give you second chance and it’s the last chance.” Kata Lily tegas.
Thanks, dear.. apa yang harus aku lakuin biar kita bisa kaya dulu lagi??” tanya Hendra bersemangat.
“ Ehmm….dua minggu lagi kan kamu ada kejuaraan bulutangkis lagi, nah aku mau kamu menangin pertandingan itu dan tunjukin medali kemenangan kamu ke aku. Dan selama kamu belum bisa bawa medali itu kehadapanku kamu ga boleh nemuin atau hubungin aku. Gimana??” tantang Lily.
“ kalau buat medalinya sih aku akan usaha sekuat mungkin, tapi kalau buat putus hubungan selama dua minggu…..” kata-kata Hendra terpotong.
“ Apa?? Ga mau?? Ya udah kita putus.” Lily hendak melangkah meninggalkan Hendra saat lelaki itu memegangi tangannya.
“ Eittss…oke lah aku setuju.” kata Hendra.
“ Bagus deh kalau gitu. Sekarang aku mau pulang karena supirku udah nunggu daritadi. Aku tunggu medali kemenangan kamu di rumah.” Lily perlahan berjalan menjauhi Hendra.

* * *

Semenjak perjanjiannya dengan Lily, Hendra tampak lebih bersemangat untuk latian. Bahkan tak jarang ia menambah jadwal latiannya. Sepertinya ia memang bersungguh-sungguh dengan usahanya itu.
Tapi disisi lain, Lily justru cuek bebek dengan Hendra, ia seakan tutup mata akan usaha yang dilakukan oleh Hendra. Bukan karena ia tak mengahargai usaha Hendra, hanya saja masih tersisa segores luka di hatinya. Baginya, kejujuran dan kesetiaan itu hal terpenting dalam suatu hubungan.
“ Lily, besok kan Hendra ada turnamen, lo mau nonton ga??” tanya Maria, teman dekat Lily.
“ Ga deh, gue nunggu medalinya aja di rumah.” Jawab Lily cuek.
“ Lo masih marah sama dia??”
“ Ya gitu deh kira-kira.”
“ Astaga Lily….Hendra itu bener-bener serius buat minta maaf sama lo. Dia nambah porsi latiannya biar bisa jadi juara, dan itu demi lo, Lily.”
“ Bodo ah, kalau dia bisa nunjukin medali emasnya, baru gue maafin.”
“ Ckckck…terserah lo deh Lily. Semoga aja lo ga nyesel sama keputusan lo.”

* * *

Hari ini adalah partai final dari kejuaraan bulutangkis yang diikuti oleh Hendra. Setelah berjuang dengan susah payah akhirnya ia bisa mencapai tahap ini. Kali ini ia harus benar-benar bermain dengan maksimal. Tinggal selangkah lagi untuk mendapat kata maaf dari Lily, perempuan yang sangat dicintainya.
“ Kali ini gue ga boleh gagal. Gue harus menang. Demi Lily.” Tekad Hendra dalam hatinya.
Ia mendapat lawan yang cukup tangguh. Smash tajam yang menjadi andalannya tidak bisa langsung membuahkan angka. Perlu tenaga dan strategi yang lebih untuk dapat mengalahkannya.
Saat ini berlangsung game kedua. Game pertama tadi Hendra menang 21-19. Dan kalau dia berhasil memenangkan pertandingan ini maka kata maaf Lily pasti ia dapatkan.
Hendra menarik nafas sebelum melakukan servis. Ia menenangkan pikirannya.
“ Hendra, lo pasti bisa. Fighting !!” Hendra menyemangati dirinya sendiri.
Adu drive yang cukup ketat berlangsung pada game ini. Kecepatan dan ketepatan pukulan mereka berdua perlu diacungi jempol. Namun lawan Hendra melakukan kesalahan. Ia melepas bola Hendra yang didorong di sudut belakang lapangan permainan. Dan bola itu masuk !! Hendra langsung bersorak. Game berakhir dan Hendra menang 21-19, 22-20.
wait for me, Lily!! I’ll come and bring gold medal for you and our love.” Kata Hendra dalam hati.

* * *

Setelah acara penganugrahan medali selesai, Hendra segera melesat menuju rumah Lily. Ia bahkan mengabaikan wartawan-wartawan yang ingin mewawancarainya. Tanpa pikir panjang ia segera melajukan motornya ke rumah Lily. Digenggamnya medali emasnya erat-erat. Ia berkendara dengan perasaan bahagia.
Sebelum berangkat ke rumah Lily, Hendra terlebih dahulu mengirim pesan padanya. Ia benar-benar tidak sabar untuk segera menunjukkan medali kemenangannya untuk Lily. Harapannya untuk kembali merajut kasih dengan Lily bagitu besar.
Ia melambatkan laju motornya ketika dilihatnya Lily di depan rumahnya. Ia tersenyum manis melihat kedatangan Hendra. Karena rumah Lily berseberangan dengan posisinya saat ini, maka Hendra segera menyeberang jalan.
Mungkin karena kurang berhati-hati, Hendra tidak melihat bahwa ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah kanannya.
“ Hendra.. awas..!!” teriak Lily.
Namun terlambat dan mobil itu pun menabrak Hendra. Mobil itu berhenti seketika dan Hendra terkapar di jalanan bersimbah darah. Dengan linangan air mata Lily mendekati Hendra.
“ Kamu sabar ya, Hen. Kamu harus kuat. Aku panggil ambulance dulu.” Lily merogoh sakunya hendak mengambil ponselnya, namun Hendra mencegahnya.
“ Ga usah, Lily. Aku Cuma mau nunjukin ini ke kamu. Medali kemenanganku buat kamu.” Hendra tersenyum, walaupun darah masih terus mengucur dari tubuhnya.
Thanks, Hen. Aku bahagia kamu bener-bener serius ngebuktiin rasa cinta kamu ke aku.”
“ Sekarang kamu percaya kan kalau aku bener-bener cinta sama kamu??”
“ Iya, Hen aku percaya. Maafin aku atas persyaratan konyolku ini”
“ ssstt… kamu ga boleh ngomong kaya gitu. Aku yang salah dan kamu berhak buat marah. Tapi kamu harus tau bahwa aku akan selalu mencintai kamu. Love you Lily, maafin kesalahanku ya??”
Love you too, Hendra. Aku udah maafin kamu kok.”
Thanks Dear, goodbye..”
Setelah mengucapkan kata itu Hendra perlahan memejamkan matanya. Genggaman pada medalinya pun perlahan-lahan mengendur. Lily sadar bahwa Hendra telah tiada. Dan ia hanya bisa terisak lemah di samping jenazah Hendra.
“ Goodbye Dear, semoga Tuhan memberikan tempat terindah bagimu…”

No comments:

Post a Comment