Sudah hampir satu jam aku
menunggunya disini, di depan sebuah toko kaset di food court sebuah mall di kota Solo. Aku sedang menunggu seseorang
yang sangat ingin kutemui. Namanya Gavin, dia salah satu atlet bulutangkis
nasional yang kebetulan berasal dari kota yang sama denganku. Kemarin kami
sepakat untuk bertemu ditempat ini jam 13.00 sedangkan sekarang ini jam di
ponselku telah menunjukkan angka 13.50. Untungnya aku ga sendirian. Aku
menunggu bersama dengan Cheryl, salah satu temanku yang menyukai badminton,
sama sepertiku.
“ Zee, serius kan Kak Gavin mau
nemuin kita disini?? Jangan-jangan dia ga dateng lagi. Udah hampir sejam nih
kita disini. Cuma duduk-duduk ga jelas begini lagi. Bosen, Zee…” kata Cheryl.
“ Ya serius lah, kemarin dia kok
yang nyuruh aku dateng kesini jam satu siang. Tunggu dulu lah, Cher, sabar…”
kataku.
“ Jangan-jangan Kak Gavin ada di
dalam toko kaset, cek dulu gih..” kata Cheryl lagi.
“
Ga mungkin lah, Cher. Tadi itu Quinsha bilang kita suruh nunggu di depan toko
kaset, bukan di toko kasetnya.” aku mengelak.
“
Ya siapa tau, Zee, tengok aja dulu.” paksa Cheryl.
“
Ya udah deh aku tengok dulu ke toko kasetnya. Kamu jaga disini ya?? Siapa tau
dia lewat. Jangan ngelamun…”
“
Iya-iya, udah sana buruan cek.” Cheryl makin memaksaku. Aku pun beranjak menuju
toko kaset di belakangku.
Aku
perlahan memasuki toko kaset itu. Hawa dingin yang dikeluarkan oleh beberapa AC
disana langsung menyergapku. Aku berjalan menyusuri toko kaset itu sambil
memperhatikan wajah orang-orang yang ada disana, tapi tak kutemui sosok yang
daritadi kutunggu. Aku pun segera keluar dan menyusul Cheryl lagi.
“
Gimana, Zee??” tanya Cheryl begitu aku mendekatinya.
“
Ga ada, Cher, kita tunggu aja disini. Mungkin dia kena macet” kataku.
“
Semacet-macetnya Solo ga akan separah macet di Jakarta, jadi ga mungkin dia
kejebak macet selama sejam.” Cheryl ngomel-ngomel.
“
Iya sih, tapi Khusnudzon aja lah, Cher. Sabar…”
Kami
pun terdiam. Cheryl asik dengan ponselnya sedangkan aku asik dengan fikiranku
sendiri. Aku teringat lagi kejadian kemarin malam, saat-saat dimana aku
memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu.
#Flashback
Saat
ini aku sedang menikmati masa liburan semesterku. Dan seperti biasanya aku
selalu online dibeberapa jejaring sosial seperti Facebook dan YM untuk mengisi
malam-malam liburanku. Namun malam ini tak seperti biasanya karena aku tau
bahwa salah satu atlet idolaku berada di kota yang sama denganku. Dan aku
berharap aku bisa bertemu dengannya. Mumpung ada kesempatan, hehe…
Nah,
kebetulan sekarang dia juga lagi online di YM. Dengan segera kuketikkan
beberapa kata untuk menyapanya.
Zivanka Clarabelle
Hai, kak J
Gavino Afandra
Hai, Zee
Zivanka Clarabelle
Lagi di Solo ya kak??
Gavino Afandra
Yupss..
Zivanka Clarabelle
Mumpung lagi di Solo,
aku pengen ketemu dong..
Boleh ga??
Gavino Afandra
Ngapain??
Zivanka Clarabelle
Ya ngobrol-ngobrol
gitu,
Gimana??
Gavino Afandra
Ga usah lah..
Zivanka Clarabelle
Yahh…kok gitu sih??
Aku sama anak-anak BL
Solo yang lain pengen ketemu kakak nih..
Gavino Afandra
Emang ada berapa
orang??
Zivanka Clarabelle
Ehmm..5 mungkin..
Gavino Afandra
Whaaa…
banyak bener…
Zivanka Clarabelle
Hehe…
Gavino Afandra
Ya udah, besok siang
aku mau ke Grand Mall,
Kamu kesana aja
Zivanka Clarabelle
Okay..
Jam berapa??
Gavino Afandra
Jam satu siang
Zivanka Clarabelle
Oke deh..
Thanks, Kak J
Aku
menutup YMku dan mengambil ponsel yang tergeletak di sampingku. Dengan hati
berbunga aku mengirim pesan ke
teman-temanku sesama BL Solo. Tapi ternyata semuanya pada ga bisa dateng.
“
Good..udah diusahain malah pada ga bisa dateng, huft…” kataku lirih, “ Terus
aku sama siapa dong?? Ga asik lah kalau sendirian, mati gaya yang ada. Aha..ngajak
Cheryl aja.” aku segera mengambil ponselku dan mengirim pesan untuk mengajak
Cheryl menemaniku bertemu dengan Kak Gavin. Untungnya dia lagi ga ada jadwal
latian paskib dan bisa nemenin aku. Jadilah sekarang kita berdua disini, di food court Grand Mall depan toko kaset
dan cuma duduk-duduk sambil celingukan nyari Kak Gavin. Ckckck….
# Flashback End
“ Zee…udah sejam lebih kita disini,
tapi Kak Gavinnya belum dateng juga, gimana dong??” rengekan Cheryl membuyarkan
lamunanku.
“
Aku juga ga tau, Cher…” aku menyandarkan kepalaku di atas meja.
“
Huft…” Cheryl menghela nafas.
“
Kak Gavin ga on time banget sih. Ga tau
apa aku bete berat bagini. Mana nervous
pula.” kataku dalam hati.
“
Zee….” Cheryl merengek lagi, bisa kurasakan ia sudah begitu bosan menunggu
disini.
“
ehmm…hand phone kamu bisa buat buka
YM ga?? Web Browser di hand phoneku
rusak nih..”
“
Bisa, nih pake aja.” Cheryl menyerahkan ponselnya, “ emang buat apa, Zee??”
Cheryl bertanya saat aku sedang mengutak-atik ponselnya.
“
Buat chat Kak Gavin, siapa tau dia lagi online.”
“
Ohh…trus dia lagi online ga sekarang??”
“
Yupss…nih status YM-nya @GM, berarti dia disini sekarang, tapi dimana??” aku
celingukan lagi.
“
Ya tanya aja lah, Zee.”
“
Oke.”
Zivanka Clarabelle
Kak, ada dimana
sekarang??
Aku udah nunggu
daritadi di food court, di depan toko kaset
Gavino Afandra
Aku di bioskop, naik
aja..
Balasan
dari Kak Gavin membuatku kesel bukan main. Seenaknya dia ngerubah tempat
ketemuan dan ga kasih tau aku. Apa dia ga nyadar kalau dari tadi aku dan Cheryl
nungguin dia?? Huft….
“
Zee, kenapa cemberut gitu??” tanya Cheryl.
“
Kak Gavin di bioskop, kita kesana aja sekarang.”
“
Kok bisa?? Bukannya kalian janjian disini ya??” Cheryl kelihatan bingung.
“
Aku juga ga tau, Cher..kita langsung kesana aja lah.” Aku mulai beranjak.
“
Tunggu..” Cheryl berjalan menyusulku.
Aku
dan Cheryl berjalan menuju bioskop. Semakin mendekati bioskop, semakin ga
karuan rasanya. Jantungku berdetak lebih cepat. Dan dengan perlahan kita
memasuki bioskop itu.
“
Zee, itu dia Kak Gavin. Samperin yuk..” kata Cheryl.
Aku
hanya menurut. Tadi kulihat Kak Gavin bersama dengan dua temannya, yang satu
namanya Ardan, atlet bulutangkis juga, tapi yang satunya aku ga tau namanya
siapa. Begitu berhadapan dengan Kak Gavin, rasa kesal yang tadi menggumpal di
dadaku hilang entah kemana. Nervousku
semakin menjadi. Aku pun hanya diam dan menundukkan pandangan.
“
Ini Zee ya?? Kak Gavin memulai pembicaraan setelah kami berjabat tangan. Aku
hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“
Yang ini siapa??” tanya Kak Gavin lagi.
“
Aku Cheryl, Kak.” Cheryl memperkenalkan diri.
“
Oh..Cuma berdua??”
“
Iya, soalnya yang lain pada ga bisa dateng.” jawabku masih dengan menunduk.
“
Kata Kak Rhea, Kak Gavin malu ya ketemu sama kita?? Kenapa??” aku gantian
mengajukan pertanyaan.
“
Iya, soalnya kan aku belum punya prestasi, jadi malu ketemu kalian.” jawab Kak
Gavin.
“
Kakak mainnya bagus lho..jadi ga usah malu” kata Cheryl
“
Belum lah..kalau udah kaya Taufik Hidayat tuh baru bisa dibilang bagus.” kata
Kak Gavin.
“
Ya kan baru proses, Kak, suatu saat nanti insyaallah kakak bisa kayak beliau.”
Kataku.
“
Amin..”
Aku
menatap Cheryl dan sepertinya dia tau yang kumaksud.
“
Kak, fobar dong…” kata Cheryl.
“
Boleh..boleh..dimana??”
“
Disini aja deh. Zee, mana hand phonemu,
aku fotoin.” Kata Cheryl dan aku pun segera memberikan ponselku padanya.
Aku
mengambil satu foto dengan Kak Gavin dan satu foto dengan Kak Ardan. Kemudian
aku gantian fotoin Cheryl sama Kak Gavin dan Kak Ardan.
“ Kita mau nonton dulu nih, maaf ya
ga bisa lama-lama.” kata Kak Gavin setelah kita foto-foto tadi.
“
Oh iya, Kak, makasih udah luangin waktu buat ketemu kita.” kataku malu-malu.
“
Iya, maaf cuma sebentar ketemunya.”
“
Iya, ga apa-apa, Kak.” jawab Cheryl.
“
Mau foto-foto lagi ga nih?? Mumpung kita masih disini. Jarang-jarang kan kita
pulang kampung, hehe..” kata Kak Gavin.
“
Boleh deh.” kata Cheryl. Dia langsung ambil posisi diantara Kak Gavin dan Kak
Ardan.
“
Fotoin ya, Zee, ntar gantian.” Kata Cheryl.
“
Iya.” jawabku.
Kali
ini Cheryl hanya ambil satu foto bertiga sama Kak Gavin dan Kak Ardan.
Sedangkan aku mengambil dua foto bertiga bersama mereka, hehe…
Aku
dan Cheryl pun beranjak keluar dari bioskop. Kami menuju ke food court lagi. Soalnya cacing-cacing
di perut kami udah asik berdendang. Laper….
“
Gimana, Zee?? Udah seneng kan bisa ketemu sama Kak Gavin??” kata Cheryl.
“
Banget, Cher, makasih udah mau nemenin.” Aku tersenyum.
“
Iya, sama-sama. Tapi sayang cuma sebentar.”
“
Iya nih, sebentar banget..”
“
Berapa menit tadi kita ketemunya??” tanya Chifa. Aku pun mengecek jam digital
di ponselku.
“
Ehmm…lima menit, Cher.” Jawabku.
“
Hah?? Gila..kita nunggu sejam lebih dan Cuma ketemu lima menit sama mereka??
Ckckckck…”
“
Ya gitu deh, Cher, just five minutes, but
I’m very glad. Lima menit yang mengesankan..” aku berkata sambil tersenyum.
****TAMAT****
No comments:
Post a Comment