Seperti
biasa, Rhea berjalan seorang diri. Menenteng beberapa tas belanja di tangan
kanan dan kirinya.
“
Hai, nona. Siapa namamu ?” sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba menghadang
jalannya.
“
Siapa kau ? beraninya menggangguku.. pergi..!!” sentak Rhea kasar. Tetapi
laki-laki itu tak begitu saja menuruti perkataan Rhea. Ia tetap berdiri di
hadapan Rhea, menatap Rhea lekat-lekat.
“
Apa yang kau lakukan ? Pergi..!!” Rhea mulai risih melihat laki-laki itu
memandanginya.
“
Hahaha.. kau tau nona, kau sangat cantik..” ujar laki-laki itu santai.
Laki-laki
asing itu benar. Rhea memang cantik dengan mata bulat dan bulu mata tebal,
hidung mancung, serta bibir tipis yang mempesona. Tubuhnya semampai. Kulitnya
pun putih dan halus, tak ada bekas luka sedikitpun. Rambutnya ikal, panjang
terurai.
Menyadari
ada maksud yang tak baik dari tatapan lelaki itu, Rhea mulai mundur perlahan.
“
Pergi kau..! jangan ganggu aku..!“ bentak Rhea lagi.
Ada
raut ketakutan di wajah Rhea saat tiba-tiba datang seorang perempuan yang
menolongnya.
“
Hei, kau..!”, kata perempuan itu tegas, “ Kau tak mendengar apa yang dia
katakan hah ? Menjauhlah darinya..!” katanya lagi.
“
Oke.. baiklah.. bye nona cantik..” kata lelaki itu yang kemudian berlalu.
“
Kau tak apa-apa ? siapa namamu ?” kata perempuan yang menolong Rhea tadi.
“
Aku tak apa, terimakasih. Namaku Rhea Chenoa. Kau bisa memanggilku Rhea.”
“
Aku Hannah Luvena, panggil saja Hannah.”
“
Terimakasih Hannah.”
Rhea
tersenyum kepada malaikat penolongnya. Ya, malaikat. Mungkin itu kata yang
tepat untuk Hannah. Jelas ia adalah perempuan yang tegas, tetapi cukup lembut
dan santun. Ia juga cantik. Dan yang menarik perhatian Rhea adalah busana yang
dipakai oleh Hannah, gamis panjang dengan jilbab lebarnya, sungguh sangat
anggun. Berbeda dengan busana Rhea yang serba mini itu.
“
Mau ku temani berbelanja lagi ?” tawar Hannah tiba-tiba.
“
Ehmm.. boleh saja. Asal tak merepotkanmu.” Sahut Rhea.
“
Sama sekali tidak.” Kata Hannah lembut.
Mereka
memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal. Setelah memilih dan memilah,
Hannah menyodorkan mini dress warna Caramel serta sepatu berhak tinggi yang
berwarna senada.
“
Ini, cobalah Rhea. Pasti sangat cocok untuk kulit putihmu itu.” kata Hannah
ramah.
“
Baiklah..”
Rhea
mengambil gaun itu dan mulai mencobanya di fitting room. Sesuai dengan dugaan
Hannah, gaun itu memang sangat cocok untuk Rhea. Ia terlihat sangat cantik
dengan gaun dan sepatu pilihan Hannah. Rhea pun tersenyum puas memandang
pantulan bayangannya di cermin besar itu.
“
Sudah selesai belum ? “ kata Hannah dari luar fitting room.
“
Sudah.” Sahut Rhea.
“
Boleh aku masuk ?”
“
silahkan.”
Hanna
masuk ke fitting room untuk melihat penampilan Rhea dengan gaun pilihannya.
Sejenak dipandanginya Rhea dari atas ke bawah.
“
Kau cantik Rhea..” kata Hannah tulus.
“
Terimakasih atas pujiannya.”
“
Boleh aku berkata sesuatu kepadamu ?”
“
Silahkan.”
“
Kau memang cantik, tapi tak terjaga.” Kata Hannah tegas. Kata-katanya sukses
membuat Rhea terkesiap.
“
Apa maksudmu ?” tanya Rhea.
“
Baiklah akan kujelaskan. Kau cantik. Siapapun mengakui dan mengagumi kecantikanmu
itu. Tapi mengapa kau biarkan laki-laki rendah yang dikuasai nafsu menikmati
kecantikanmu itu ? kau cantik tapi murahan. Kau biarkan siapapun menikmati
tubuhmu dengan pandangannya. Seandainya tidak kau umbar kecantikanmu itu pasti
kau tak akan diganggu lelaki brengsek macam tadi. Kau cantik tapi tak berharga, semua lelaki yang melihatmu
memandangmu dengan penuh nafsu sambil membayangkan tentang sesuatu yang mungkin membuatmu merasa hina. Seperti binatang. Coba tanya pada
lelaki di luar sana tentang pendapatnya mengenai dirimu, jawabanya pasti
cantik, enak dipandang. Tapi coba kamu renungkan maksud kata-katanya. Merendahkan dirimu kan! Kau hanya pemuas nafsu mereka saja. Apa kau suka dipandang penuh nafsu oleh para lelaki yang
bahkan tak kau kenal itu? Dimana
harga dirimu? Wanita itu seperti mutiara.
Ia begitu indah. Segala bagian
tubuhnya itu indah. Karena itu ia
harus terjaga. Orang yang
mendapatkannya pun harus bersusah payah menyelam ke dalam lautan. Namun sekarang ada juga
mutiara yang terpajang di etalase toko, tak terjaga dari pandangan penuh nafsu ingin
memilikinya. Setiap orang pun bisa melihatnya. Setiap orang pernah melihat kecantikannya. Lelaki baik-baik pasti tak mau memilih mutiara yang
cantik tapi telah dinikmati banyak orang. Karena itu, Rhea, pakailah kerudungmu. Kau, bahkan setiap wanita, terlalu
berharga untuk dipandang dengan pandangan penuh nafsu dari orang yang
hanya memikirkan nafsunya saja.”, kata
Hannah tegas, “Pikirkanlah ucapanku baik-baik. Maaf jika itu menyinggungmu.” Hannah
menepuk bahu Rhea perlahan dan bergegas pergi.
Sepeninggal
Hannah, Rhea hanya terdiam. Semua kata-kata Hannah tadi jelas membekas di
ingatannya. Selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dan tanpa disadari, air
matanya menetes.
“
Hannah benar, aku cantik tapi tak terjaga, aku cantik tapi murahan, aku cantik
tapi tak berharga.” Ucap Rhea setengah berbisik.
Ia
merasa sangat malu. Malu pada Allah dan pada dirinya sendiri. Ia bertekad akan
segera merubah penampilannya saat ini. Ia akan berhijab. Ia ingin cantik dan
terjaga. Ia ingin cantik dan berharga J
No comments:
Post a Comment