Sunday, January 29, 2012

Kau Cantik, Tapi . . .

Seperti biasa, Rhea berjalan seorang diri. Menenteng beberapa tas belanja di tangan kanan dan kirinya.
“ Hai, nona. Siapa namamu ?” sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba menghadang jalannya.
“ Siapa kau ? beraninya menggangguku.. pergi..!!” sentak Rhea kasar. Tetapi laki-laki itu tak begitu saja menuruti perkataan Rhea. Ia tetap berdiri di hadapan Rhea, menatap Rhea lekat-lekat.
“ Apa yang kau lakukan ? Pergi..!!” Rhea mulai risih melihat laki-laki itu memandanginya.
“ Hahaha.. kau tau nona, kau sangat cantik..” ujar laki-laki itu santai.
Laki-laki asing itu benar. Rhea memang cantik dengan mata bulat dan bulu mata tebal, hidung mancung, serta bibir tipis yang mempesona. Tubuhnya semampai. Kulitnya pun putih dan halus, tak ada bekas luka sedikitpun. Rambutnya ikal, panjang terurai.
Menyadari ada maksud yang tak baik dari tatapan lelaki itu, Rhea mulai mundur perlahan.
“ Pergi kau..! jangan ganggu aku..!“ bentak Rhea lagi.
“ Hahaha…” lelaki itu terus tertawa dan mendekati Rhea perlahan-lahan.
Ada raut ketakutan di wajah Rhea saat tiba-tiba datang seorang perempuan yang menolongnya.
“ Hei, kau..!”, kata perempuan itu tegas, “ Kau tak mendengar apa yang dia katakan hah ? Menjauhlah darinya..!” katanya lagi.
“ Oke.. baiklah.. bye nona cantik..” kata lelaki itu yang kemudian berlalu.
“ Kau tak apa-apa ? siapa namamu ?” kata perempuan yang menolong Rhea tadi.
“ Aku tak apa, terimakasih. Namaku Rhea Chenoa. Kau bisa memanggilku Rhea.”
“ Aku Hannah Luvena, panggil saja Hannah.”
“ Terimakasih Hannah.”
Rhea tersenyum kepada malaikat penolongnya. Ya, malaikat. Mungkin itu kata yang tepat untuk Hannah. Jelas ia adalah perempuan yang tegas, tetapi cukup lembut dan santun. Ia juga cantik. Dan yang menarik perhatian Rhea adalah busana yang dipakai oleh Hannah, gamis panjang dengan jilbab lebarnya, sungguh sangat anggun. Berbeda dengan busana Rhea yang serba mini itu.
“ Mau ku temani berbelanja lagi ?” tawar Hannah tiba-tiba.
“ Ehmm.. boleh saja. Asal tak merepotkanmu.” Sahut Rhea.
“ Sama sekali tidak.” Kata Hannah lembut.
Mereka memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal. Setelah memilih dan memilah, Hannah menyodorkan mini dress warna Caramel serta sepatu berhak tinggi yang berwarna senada.
“ Ini, cobalah Rhea. Pasti sangat cocok untuk kulit putihmu itu.” kata Hannah ramah.
“ Baiklah..”
Rhea mengambil gaun itu dan mulai mencobanya di fitting room. Sesuai dengan dugaan Hannah, gaun itu memang sangat cocok untuk Rhea. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun dan sepatu pilihan Hannah. Rhea pun tersenyum puas memandang pantulan bayangannya di cermin besar itu.
“ Sudah selesai belum ? “ kata Hannah dari luar fitting room.
“ Sudah.” Sahut Rhea.
“ Boleh aku masuk ?”
“ silahkan.”
Hanna masuk ke fitting room untuk melihat penampilan Rhea dengan gaun pilihannya. Sejenak dipandanginya Rhea dari atas ke bawah.
“ Kau cantik Rhea..” kata Hannah tulus.
“ Terimakasih atas pujiannya.”
“ Boleh aku berkata sesuatu kepadamu ?”
“ Silahkan.”
“ Kau memang cantik, tapi tak terjaga.” Kata Hannah tegas. Kata-katanya sukses membuat Rhea terkesiap.
“ Apa maksudmu ?” tanya Rhea.
“ Baiklah akan kujelaskan. Kau cantik. Siapapun mengakui dan mengagumi kecantikanmu itu. Tapi mengapa kau biarkan laki-laki rendah yang dikuasai nafsu menikmati kecantikanmu itu ? kau cantik tapi murahan. Kau biarkan siapapun menikmati tubuhmu dengan pandangannya. Seandainya tidak kau umbar kecantikanmu itu pasti kau tak akan diganggu lelaki brengsek macam tadi. Kau cantik tapi tak berharga, semua lelaki yang melihatmu memandangmu dengan penuh nafsu sambil membayangkan tentang sesuatu yang mungkin membuatmu merasa hina. Seperti binatang. Coba tanya pada lelaki di luar sana tentang pendapatnya mengenai dirimu, jawabanya pasti cantik, enak dipandang. Tapi coba kamu renungkan maksud kata-katanya. Merendahkan dirimu kan! Kau hanya pemuas nafsu mereka saja. Apa kau suka dipandang penuh nafsu oleh para lelaki yang bahkan tak kau kenal itu? Dimana harga dirimu? Wanita itu seperti mutiara. Ia begitu indah. Segala bagian tubuhnya itu indah. Karena itu ia harus terjaga. Orang yang mendapatkannya pun harus bersusah payah menyelam ke dalam lautan. Namun sekarang ada juga mutiara yang terpajang di etalase toko, tak terjaga dari pandangan penuh nafsu ingin memilikinya. Setiap orang pun bisa melihatnya. Setiap orang pernah melihat kecantikannya. Lelaki baik-baik pasti tak mau memilih mutiara yang cantik tapi telah dinikmati banyak orang. Karena itu, Rhea, pakailah kerudungmu. Kau, bahkan setiap wanita, terlalu berharga untuk dipandang dengan pandangan penuh nafsu dari orang yang hanya memikirkan nafsunya saja.”, kata Hannah tegas, “Pikirkanlah ucapanku baik-baik. Maaf jika itu menyinggungmu.” Hannah menepuk bahu Rhea perlahan dan bergegas pergi.
Sepeninggal Hannah, Rhea hanya terdiam. Semua kata-kata Hannah tadi jelas membekas di ingatannya. Selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dan tanpa disadari, air matanya menetes.
“ Hannah benar, aku cantik tapi tak terjaga, aku cantik tapi murahan, aku cantik tapi tak berharga.” Ucap Rhea setengah berbisik.
Ia merasa sangat malu. Malu pada Allah dan pada dirinya sendiri. Ia bertekad akan segera merubah penampilannya saat ini. Ia akan berhijab. Ia ingin cantik dan terjaga. Ia ingin cantik dan berharga J



No comments:

Post a Comment