Friday, July 29, 2011

Beragam Warna, Satu Asa di Cipayung

Rambutnya sudah didominasi warna putih. Salah satu tanda bahwa laki-laki itu sudah cukup berumur. Kendati begitu, semangatnya tetap terjaga. Bahkan, begitu menyala jika bersinggungan dengan bulu tangkis.
Christian Hadinata laki-laki itu. Usianya sudah lebih dari 60 tahun. 3/4 dari umurnya tersebut dijalaninya di bulu tangkis. Hanya di masa kecil saja, Christian tidak sepenuhnya bertalian dengan bulu tangkis. Masa kecilnya juga diisi dengan bermain sepakbola.

”Para pendahulu kita telah mewariskan sesuatu yang luar biasa berupa prestasi bulu tangkis. Sebagai generasi penerus saya merasa bertanggungjawab untuk melestarikannya,” ujarnya.
Generasi sebelum Christian memang telah menorehkan prestasi luar biasa di bulu tangkis. Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan dan Njoo Kim Bie berhasil membawa Indonesia juara Piala Thomas-kejuaraan bulu tangkis bergengsi beregu putra-untuk kali pertama pada 1958.
”Bagaimana mungkin saya melupakan warisan hebat tersebut,” ucap Christian. Lelaki kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah itu memang tidak pernah pergi dari bulu tangkis. Selepas gantung raket pada 1988, Christian tidak pernah jauh dari lapangan bulu tangkis. Keringatnya tetap menetes di lapangan, meski tidak lagi menjadi pemain.
Sebelum gantung raket, Christian sudah menyumbang banyak gelar untuk Merah Putih. Berpasangan dengan Ade Chandra, Christian meraih kurang lebih sembilan gelar tingkat dunia. Termasuk gelar All England-turnamen bulu tangkis paling bergengsi. Selain itu, empat kali, Christian melambungkan nama Indonesia di Piala Thomas.
”Saya harus menjaga dan melestarikannya (warisan prestasi). Karena itu, saya selalu termotivasi untuk terus berada di lapangan untuk menjaga eksistensi bulu tangkis di Indonesia dan prestasinya,” tegas Christian.
Di Cipayung kami bertemu. Tepatnya di pemusatan latihan bulu tangkis nasional. Orang-orang bulu tangkis lebih akrab menyebut pemusatan itu dengan nama Cipayung. Pemusatan tersebut memang terletak di kawasan bernama Cipayung. Kawasan teduh yang berada di pinggiran Jakarta Timur.
Di Cipayung, saya tak hanya bertemu Christian. Saya berkenal dengan Susi Susanti. Perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang membuat lagu Indonesia Raya berkumandang untuk kali pertama di Olimpiade. Susi merebut medali emas di Olimpiade Barcelona 1992. Itulah medali emas pertama Indonesia di ajang olahraga paling akbar di dunia tersebut.
Saya juga berbincang dengan Alan Budikusuma. Saat Olimpiade Barcelona 1992, tetesan keringat Alan membuat bendera Merah Putih juga berkibar lebih tinggi. Arek Surabaya keturuhan Tionghoa itu juga meraih medali emas. Medali itu direngkuhnya beberapa menit setelah Susi-kini menjadi istrinya-juara.
Di Cipayung pula saya berjumpa Taufik Hidayat. Lelaki asal Bandung yang merupakan salah satu pebulu tangkis tunggal putra terbaik dunia. Hingga kapan pun. Taufik adalah seniman bulu tangkis. Dia cerdik memainkan shuttlecock. Orang selalu menelan ludah setiap kali mengingat pukulan backhandnya. Pukulan backhandnya tak pernah kalah dengan pukulan forehandnya. Bukan saja soal akurasi. Tapi, juga kecepetannya.
Kehidupan Taufik penuh warna. Terkadang kontroversi dan dianggap nakal. Tapi, airmatanya selalu meleleh ketika dia menang dan  lagu Indonesia Raya berkumandang. Seperti saat Taufik meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004. Taufik juga pernah menahbiskan diri sebagai juara kejuaraan dunia 2005.
”Komitmen saya tidak pernah berubah untuk Indonesia,” ucap Taufik di GOR Bantong yang ada di Cijantung, Jakarta Timur.
Taufik memutuskan pergi dari Cipayung awal tahun 2009. Dia kemudian ”menyendiri” di GOR Bantong. Namun, sesekali Lelaki kelahiran 10 Agustus 1981 mampir ke Cipayung. Bukan untuk bernostalgia. Tapi, memenuhi panggilan ibu pertiwi untuk berjuang di medan laga.
Di Cipayung saya juga melihat keakraban Markis Kido dan Hendra Setiawan. Dua anak muda yang berbeda latar belakang. Baik suku, agama, ras dan juga ekonomi. Kido berdarah Betawi-Padang. Lelaki kelahiran Jakarta 11 Agustus 1984 itu berasal dari keluarga sederhana. Keluarga Islam yang religius.
Hendra merupakan keturuan Tionghoa. Lelaki kelahiran 24 Agustus 1984 itu lebih sering bercakap dengan bahasa Jawa karena lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Hendra dan keluarganya merupakan pemeluk nasrani yang taat.
Namun perbedaan itu bukan menjadi jurang pemisah. Sebaliknya, perbedaan itu justru merekatkan mereka. Entah di lapangan maupun di tepi arena. Prestasi mereka menjadi jawaban keakraban di lapangan. Kolaborasi mereka telah menghasilkan medali emas Olimpiade Beijing 2008. Kido dan Hendra juga telah mencecap manisnya podium juara dunia.
Di luar lapangan, mereka memiliki rumah bersebelahan di kawasan Bintaro, di selatan Jakarta. ”Kami sudah bersama-sama sejak lama di bulu tangkis. Di benak kami yang ada hanya untuk merengkuh prestasi terbaik di bulu tangkis demi nama bangsa, bukan hal lain,” ucap Hendra di suatu waktu.
Di Cipayung, saya juga bertemu Maria Kristian. Anak pesisir Pantai Tuban, Jawa Timur yang kalem. Dan Maria selalu begitu. Tenang dan tidak meledak-ledak. Namun, meski kalem, ayunan raketnya mampu merengkuh medali perunggu Olimpiade Beijing 2008.
Di Cipayung, saya juga bertemu anak muda bernama Fran Kurniawan Teng. Pemuda asal Palembang yang tak hanya berhasrat menekuni bisnis pempek-makanan khas Sumatera Selatan. Tapi, anak muda yang juga selalu bersemangat mengejar prestasi. Bukan untuk nama pribadi dan keluarga. Lebih dari itu, demi nama bangsa. ”Jalan saya cukup panjang. Saya akan terus berusaha,” tegasnya.
Cipayung memang penuh warna. Tapi, asa mereka tetap sama. Dan Cipayung adalah perkenalan yang menakjubkan. Perkenalan yang menyadarkan sekaligus menegaskan betapa indahnya memiliki identitas Indonesia.

No comments:

Post a Comment