Rambutnya sudah didominasi warna putih. Salah satu tanda bahwa laki-laki
itu sudah cukup berumur. Kendati begitu, semangatnya tetap terjaga.
Bahkan, begitu menyala jika bersinggungan dengan bulu tangkis.
Christian Hadinata laki-laki itu. Usianya sudah lebih dari 60 tahun. 3/4
dari umurnya tersebut dijalaninya di bulu tangkis. Hanya di masa kecil
saja, Christian tidak sepenuhnya bertalian dengan bulu tangkis. Masa
kecilnya juga diisi dengan bermain sepakbola.
”Para pendahulu kita telah mewariskan sesuatu yang luar biasa berupa
prestasi bulu tangkis. Sebagai generasi penerus saya merasa
bertanggungjawab untuk melestarikannya,” ujarnya.
Generasi sebelum Christian memang telah
menorehkan prestasi luar biasa di bulu tangkis. Tan Joe Hok, Ferry
Sonneville, Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan dan
Njoo Kim Bie berhasil membawa Indonesia juara Piala Thomas-kejuaraan
bulu tangkis bergengsi beregu putra-untuk kali pertama pada 1958.
”Bagaimana mungkin saya melupakan warisan hebat tersebut,” ucap
Christian. Lelaki kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah itu memang tidak
pernah pergi dari bulu tangkis. Selepas gantung raket pada 1988,
Christian tidak pernah jauh dari lapangan bulu tangkis. Keringatnya
tetap menetes di lapangan, meski tidak lagi menjadi pemain.
Sebelum gantung raket, Christian sudah menyumbang banyak gelar untuk
Merah Putih. Berpasangan dengan Ade Chandra, Christian meraih kurang
lebih sembilan gelar tingkat dunia. Termasuk gelar All England-turnamen
bulu tangkis paling bergengsi. Selain itu, empat kali, Christian
melambungkan nama Indonesia di Piala Thomas.
”Saya harus menjaga dan melestarikannya (warisan prestasi). Karena itu,
saya selalu termotivasi untuk terus berada di lapangan untuk menjaga
eksistensi bulu tangkis di Indonesia dan prestasinya,” tegas Christian.
Di Cipayung kami bertemu. Tepatnya di pemusatan latihan bulu tangkis
nasional. Orang-orang bulu tangkis lebih akrab menyebut pemusatan itu
dengan nama Cipayung. Pemusatan tersebut memang terletak di kawasan
bernama Cipayung. Kawasan teduh yang berada di pinggiran Jakarta Timur.
Di Cipayung, saya tak hanya bertemu Christian. Saya berkenal dengan Susi
Susanti. Perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang membuat lagu
Indonesia Raya berkumandang untuk kali pertama di Olimpiade. Susi
merebut medali emas di Olimpiade Barcelona 1992. Itulah medali emas
pertama Indonesia di ajang olahraga paling akbar di dunia tersebut.
Saya juga berbincang dengan Alan Budikusuma. Saat Olimpiade Barcelona
1992, tetesan keringat Alan membuat bendera Merah Putih juga berkibar
lebih tinggi. Arek Surabaya keturuhan Tionghoa itu juga meraih medali
emas. Medali itu direngkuhnya beberapa menit setelah Susi-kini menjadi
istrinya-juara.
Di Cipayung pula saya berjumpa Taufik Hidayat. Lelaki asal Bandung yang
merupakan salah satu pebulu tangkis tunggal putra terbaik dunia. Hingga
kapan pun. Taufik adalah seniman bulu tangkis. Dia cerdik memainkan
shuttlecock. Orang selalu menelan ludah setiap kali mengingat pukulan
backhandnya. Pukulan backhandnya tak pernah kalah dengan pukulan
forehandnya. Bukan saja soal akurasi. Tapi, juga kecepetannya.
Kehidupan Taufik penuh warna. Terkadang kontroversi dan dianggap nakal.
Tapi, airmatanya selalu meleleh ketika dia menang dan lagu Indonesia
Raya berkumandang. Seperti saat Taufik meraih medali emas di Olimpiade
Athena 2004. Taufik juga pernah menahbiskan diri sebagai juara kejuaraan
dunia 2005.
”Komitmen saya tidak pernah berubah untuk Indonesia,” ucap Taufik di GOR Bantong yang ada di Cijantung, Jakarta Timur.
Taufik memutuskan pergi dari Cipayung awal tahun 2009. Dia kemudian
”menyendiri” di GOR Bantong. Namun, sesekali Lelaki kelahiran 10 Agustus
1981 mampir ke Cipayung. Bukan untuk bernostalgia. Tapi, memenuhi
panggilan ibu pertiwi untuk berjuang di medan laga.
Di Cipayung saya juga melihat keakraban Markis Kido dan Hendra Setiawan.
Dua anak muda yang berbeda latar belakang. Baik suku, agama, ras dan
juga ekonomi. Kido berdarah Betawi-Padang. Lelaki kelahiran Jakarta 11
Agustus 1984 itu berasal dari keluarga sederhana. Keluarga Islam yang
religius.
Hendra merupakan keturuan Tionghoa. Lelaki kelahiran 24 Agustus 1984 itu
lebih sering bercakap dengan bahasa Jawa karena lahir di Pemalang, Jawa
Tengah. Hendra dan keluarganya merupakan pemeluk nasrani yang taat.
Namun perbedaan itu bukan menjadi jurang pemisah. Sebaliknya, perbedaan
itu justru merekatkan mereka. Entah di lapangan maupun di tepi arena.
Prestasi mereka menjadi jawaban keakraban di lapangan. Kolaborasi mereka
telah menghasilkan medali emas Olimpiade Beijing 2008. Kido dan Hendra
juga telah mencecap manisnya podium juara dunia.
Di luar lapangan, mereka memiliki rumah bersebelahan di kawasan Bintaro,
di selatan Jakarta. ”Kami sudah bersama-sama sejak lama di bulu
tangkis. Di benak kami yang ada hanya untuk merengkuh prestasi terbaik
di bulu tangkis demi nama bangsa, bukan hal lain,” ucap Hendra di suatu
waktu.
Di Cipayung, saya juga bertemu Maria Kristian. Anak pesisir Pantai
Tuban, Jawa Timur yang kalem. Dan Maria selalu begitu. Tenang dan tidak
meledak-ledak. Namun, meski kalem, ayunan raketnya mampu merengkuh
medali perunggu Olimpiade Beijing 2008.
Di Cipayung, saya juga bertemu anak muda bernama Fran Kurniawan Teng.
Pemuda asal Palembang yang tak hanya berhasrat menekuni bisnis
pempek-makanan khas Sumatera Selatan. Tapi, anak muda yang juga selalu
bersemangat mengejar prestasi. Bukan untuk nama pribadi dan keluarga.
Lebih dari itu, demi nama bangsa. ”Jalan saya cukup panjang. Saya akan
terus berusaha,” tegasnya.
Cipayung memang penuh warna. Tapi, asa mereka tetap sama. Dan Cipayung
adalah perkenalan yang menakjubkan. Perkenalan yang menyadarkan
sekaligus menegaskan betapa indahnya memiliki identitas Indonesia.
No comments:
Post a Comment